Feed on
Posts
comments

Mati Rasa..

Sungguh tak pernah kukira akan begini jadinya..

Ketertarikan itu lenyap sudah.. kenangan memag masih nyata.. bahagianya masih terbayang, tapi rasanya entah ke mana..

Kali ini bukan jarak, bukan waktu, bukan prinsip.. tapi aku..

Aku terlalu banyak berharap dan aku tak mampu menyelaraskan harapanku dengan kenyataan..

Situasi pun segalanya lebih sulit untukku.. dan aku tau juga untuknya..

Tapi aku tak bisa tinggal diam.. Jika ia tidak mau bereaksi, biarlah aku yang bereaksi.. aku perlu keluar dari gelembung fantasi yang kuciptakan sendiri.. Fantasi akan keromantisan yang mungkin hanya ada di anganku semata..

Hanya maaf yang bisa kukatakan… aku butuh waktu.. aku tak bisa berada dalam kolam tapi tetap merasa kehausan..

Sekelumit sayang yang masih menggantung biarlah tetap bertahta di sana…

Siapa tahu waktu akan mengubah segalanya..

Siapa tahu kesendirian akan membuatku tahu apa yang kumau..

Bookmark and Share

I’m a very competitive person. I’m used to setting high goals and do everything I can to achieve those goals. And I rarely failed!

Having said that I do understand that accepting failure or lost is not what I’m good at. For me, everything has to be controllable. That is no such thing as coincidence or "force major". Everything should be anticipated and there is nothing that can not be solved. I always make plans in advance and try my best not to be derailed from it.
Even nowadays, as I grow older and wiser, every little derailment or impulsive behavior that I did serve a consequence for me. At least, emotionally.

For having such a strong and tight ‘manuals’ for myself, I expect others to behave the same. Making plans, setting higher goals, working extra hard, striving for perfection and prepare themselves for every error that might happen.
And I always think that if I could be the best.. if I could get the best, why should I settle for a second best?!?

For the past few months, those (perhaps you think nonsense) principle suddenly backfiring at me. Why? Coz’ I’m in love.. with someone who’s not even close to those standards… to things that is uncertain.. to situations that can not be anticipated, to feelings that I don’t know how to handle.

I’ve tried to have faith and patience. I’ve tried to alter my principle by implementing all those craps about being positive (not because it’s what I see, but because by doing that I’m hoping that the flaws will not be seen). But yet.. here I am.. writing this blog with abundance of emotions waiting to be exploded! It’s just not working. My acceptance is only on cognitive level. I’m knowing, not understanding. Well, perhaps I’ve tried to understand, like I empathized to my clients, but that’s it. I’m not doing it!!! It has boundaries and distances between what I really feel and what I think I know of.

I couldn’t take my guards down. I can’t stop using my defenses.
I’m so scared of hurting.. and losing.. again!

Even if I know the pain will ease away, the thought that I have to get through it again really frightened me. And I’m afraid eventually I will choose to follow my heart… I will choose not to be hurt, in any ways… even if that means I have to be all alone, again.

I need the best.. I want the best.. and I won’t settle for anything or anyone less.

If there is no such thing.. if there is no one like it, then I shall live myself alone.
Coz’ in the end it’s only me that I could count on…
And there’s only GOD that I could depend on…

I appreciate everything I had, but still… I want more!!!

Bookmark and Share

Acceptance.. atau ‘nrimo kalo orang Jawa bilang.. rasanya dah berkali-kali kutekankan ke semua klien-klienku yang mengalami berbagai masalah. Mulai yang sekedar ga bisa menerima jurusan yang sekarang dijalaninya, orang tua, pacar, kesehatan, bahkan menghadapi kematian.

Aku berusaha keras membuat mereka semua mencapai penerimaan itu. Dan tugasku kemudian menjadi luar biasa sulit… atau jika rasanya tercapai.. hmm.. ga bertahan lama. Kalo menilik pada pengalamanku sendiri, hmm.. ini memang target terapi jangka panjang yang pencapaiannya sampai sekarang masih dianggap suatu mukjizat. haha.. Aku membahas ini dengan teman-temanku dan sampai pada beberapa kesimpulan.

  1. Menerima bukan berarti beradaptasi…   Salah seorang temanku mengatakan bahwa ia bisa menerima kalo pacarnya
    adalah    orang yang pasif, lamban, dan tidak romantis. Tapi ini tidak
    membuatnya menurunkan standarnya terhadap seorang pacar
    ideal. Ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan ini.
    Akibatnya, rasa gundah dan resah itu tetap ada.
  2. Temanku yang lain bilang kalo perilaku seperti di atas itu ya berarti belum menerima, melainkan sekedar tahu aja. Memang sih kalo kata orang Jawa ‘nrimo itu disertai dengan keikhlasan hati. Nah, kalo masih menuntut dan uring-uringan ketika itu ga tercapai, apakah sudah disertai dengan keikhlasan hati?

Dan Senin lalu aku bertemu si "Bapak".. setelah energiku terkuras habis menemui klien dan bimbingan dengan dosen. Spontan serentetan keluh kesah mengalir deras dari mulutku. Si Bapak hanya menyeringai dan mengatakan "percaya kan sekarang bahwa kamu masih anak anjing?!? belajar dewasa itu emang susah kok!"

Dan seperti biasa aku pun langsung defensif… mencoba membela diri mati2an dan menolak untuk menerima anggapannya bahwa aku belum juga dewasa. Pembelaanku yang paling pamungkas adalah mengatakan bahwa segala curhatan yang aku katakan tadi bukannya tidak disadari sebab dan akibatnya. Aku pun mengaku tahu apa yang harus dilakukan. Aku berdalih aku bisa kok menghadapinya, tapi lagi suntuk aja dan butuh re-assurance.

Lagi-lagi dia hanya tertawa. "Tau sih tau, Re.. tapi apakah kamu menerima itu? Ga ada keputusan yang selalu benar. Apa pun yang kamu rasakan dan putuskan sekarang adalah berdasarkan penilaianmu atas situasi dan kondisi yang sekarang kamu hadapi. Yang dulu kamu buat, bukan berarti salah. Yang dulu kamu putuskan tetap benar berdasarkan situasi dan kondisi saat itu. Mana bisa kamu berharap ga akan disakiti, ga akan salah langkah lagi? Kamu terus berubah, begitu pula orang di sekitar kamu"

Trus gimana dong? Aku cuma pengen tahu kenapa aku sampai di sini, dalam perasaan ini. AKu pengen tahu alasan di balik segala peristiwa yang menimpaku. Aku begitu merasa insecure pada diriku. Aku merasa perlu tahu karena ga mau kalo aku melakukan kesalahan yang sama yang membuatku sakit hati sendiri. huhuhu… Kata-kataku mulai tersendat dan rasanya mataku berkaca-kaca. 

"Makanya saya bilang kau belum dewasa, Re.. Ketika kamu mencapai kedewasaan itu, maka kamu ga lagi peduli tentang alasan di balik kejadian-kejadian yang sudah lewat.Toh ga ada kan yang bisa kamu lakukan? Kalo kamu sudah dewasa, kamu akan sadar bahwa setiap hal beresiko dan akan berubah. Kamu ga bisa mencegah dan mengontrol setiap hal, kecuali hati dan pikiran kamu sendiri. Ketika kamu tahu ini, kamu ga akan takut mengambil keputusan apa pun. Karena kamu sudah bisa mengantisipasi segala kekecewaan yang akan muncul. Dan akhirnya kamu akan bisa menerima dan menjalani hidupmu apa adanya."

Ketika melihat aku mati kutu dan tak mampu menjawab kata-katanya, si Bapak pun meneruskan, "Ga usah stres gitu. Kalo kamu masih ga bisa juga tenang, blum bisa menerima, ga apa. Kan masih bisa nyanyi atau makan es krim?!? Biasanya paling manjur kan buat kamu?!? hehehehe.. "

Si Bapak pun ngeloyor pergi sambil masih terkekeh-kekeh… meninggalkan aku termenung-menung.. berusaha mencerna apa yang baru saja kudengar. Dan tiba-tiba saran untuk bernyanyi atau makan es krim sangat tepat untuk dilakukan.

Aku pun ikutan ngeloyor pergi.. membayangkan semangkuk besar es krim sambil bernyanyi-nyanyi, "Qui serra-serra, whatever will be, will be.. ".

Dan ketika saat ini kegalauan kembali melanda, hasrat untuk menyantap semangkuk besar es krim kembali muncul. Mungkin inilah bentuk penerimaanku atas hidup.. makan semangkuk es krim sambil bernyanyi.

Bookmark and Share

Akhirnya kesampaian juga cita2 dari beberapa bulan lalu untuk nonton "Sex & the City" bersama teman2 perempuanku, KLD 12. Rencananya sih 4 orang, eh membengkak menjadi 8 orang. Jadinya lebih rame dan lebih menyenangkan. Apalagi hari ini adalah hari kasuistik terakhir. Artinya ga ada lagi deadline penyelesaian laporan dan "kompre" kasus yang mendebarkan. Fiuh! Lega sekaligus cemas… gimana nasib sisa laporan lainnya kalo ga ada deadline?

Ok! That’s enough!! kita kan mau ngomongin yang menyenangkan… kok jadi laporan lagi, laporan lagi. Huh! Preokupasi yang sungguh mengesalkan!
Anyway… setelah menikmati "Avenue" yang diskon 50% dengan kartu kredit MANDIRI (hmmmm… sooo yummy… and become inexpensive), kami pun menonton film yang disebut2 sebagai "the ultimate female-bestfriend movie".

Dan gue langsung tahu alasan dari munculnya komentar tersebut. Terlepas dari alurnya yang mungkin agak lamban, kualitas bioskop yang mengecewakan (sumpah jadi pengen nonton lagi di BLITZ atau mungkin nanti yang unrated version dvd-nya), tema utama yang diangkat memang mengenai perempuan dan persahabatan. Gue terharu banget sama solidaritas masing2 karakter (Samantha, Miranda & Charlotte) sama Carrie. Mereka memang orang2 yang beda karakter, beda gaya hidup, tapi begitu satu aja teman mereka bermasalah, semua langsung membantu. And I do admire the fact that they say "we do not kiss and tell". Suatu hal yang sulit bagi cewe untuk tidak bergosip. Tapi mereka semua bisa mempertahankan integritasnya dengan menjadi teman sejati yang ga ngomongin kejelekan temennya di belakang.

Dan kenyataan bahwa mereka (ceritanya) berteman dari awal mereka masih berusia 20tahunan sampai 40 tahunan… WOW KEREN!!! Gue sendiri punya temen2 deket perempuan yang menurut gue EXTRAORDINARY. Mereka semua sangat suportif sama gue selama ini. Dan seperti yang dialami Samantha, they are my mirror that I could not escape. Gue bisa aja denial dan rasionalisasi mati2an, dan ga ketauan sama orang lain, but to them I’m almost naked. I’m like an open book.
And to realize that I’m that expose and yet still being comfortable with who I am, hmmm… that makes me appreciate them even more. Girls, if any of you read this, thank you and I do hope we’ll last forever. Not just to our 40’s, but perhaps to our 60’s and so on… love u:)

OK! Itu hal bagus pertama dari film ini. Berikutnya, tentu saja, WARDROBE!!!!!
OH MY GOD gue hampir histeria massa pas nonton tadi. Bajunya, sepatunya, sepatunya, tasnya, kamarnya… huaaaaaa…. just makes me wanna cry, desperately longing for every single thing… Yang paling gue suka adalah sepatu biru Manolo Blahnik (I hope I spell that correct), USS 525 dollar (uups!), yang ditinggal Carrie di apartemen barunya. Ampun deh.. KEREN BGT!!! Trus baju2nya antara lain baju biru yang dipake Carrie di acara "7 bulanan"-nya Charlotte. Pas di situ baju hamilnya Charlotte juga lucu buanget. Trus terusan kuningnya Samantha (gila yaa.. gue lagi ngidam2 punya baju kuning, dan di film ini ada 2 baju kuning yang oks banget!), baju pink backless Carrie, dan hampir semua baju2nya Charlotte.
God, Katherine Davis is so damn gorgeous!! Belum lagi gaun pengantin yang dipake Carrie untuk VOGUE. huhuhu… bikin pengen kawin. he.. nikah maksudnya…
Dan gue setuju ama pilihan mereka semua untuk memilih gaun terakhir buat Carrie. It’s so beautiful. Pokoknya buat fashionista, wajib nonton deh!!!

And last but not least, LOVE!!! gue hampir nangis denger puisi2 cinta yang dipilih. Dan sekali lagi gue setuju ama "the ultimate love letter" yang dipilih. Ga nyangka aja Ludwig van Beethoven ternyata sangatlah romantis. Dan jadi kepikiran untuk nyari.. oh well.. sebenernya lebih berharap untuk ada seseorang yang nantinya akan membacakan puisi itu buat gue. OH MY GOD!!! Gue adalah perempuan yang paling beruntung kalo orang yang gue cintai juga mencintai gue sampai sedalam yang dibilang dalam puisi itu. Apakah ada cinta sedalam itu, semogaaa… Dan tentunya semoga juga ada buat gue:)

Well, terlepas dari kontroversi ‘pemujaan’ seksualitas yang bagi sebagian orang mungkin terasa berlebihan, menurut gue, film ini layak tonton. But please, DO NOT BRING ANY CHILDREN!!!! or even TEENAGER!!!! Ini bukan waktunya bagi mereka untuk mengkonsumsi film seperti ini. Dan dengan melihat bahwa tadi banyak sekali anak ABG (SMP2 gitu) yang nonton, bahkan orang tua dengan anak2 kecilnya, gue sangat prihatin. Mekanisme pembelian tiket di kita kan ga ada kontrolnya, jadi tolong buatlah pilihan yang bijak dengan mengajak anak2 atau remaja menonton film yang memang "age appropriate". Jangan rusak anak2.. jangan biarkan mereka dewasa terlalu cepat sebelum waktunya… BEWARE!!!

Selamat menonton.. semoga kalian juga mendapatkan "manfaat" dan tentunya hiburan dengan menonton film ini:)

Bookmark and Share

yup…
eventually this excruciating pain will go away..
or at least will be unnoticed…

I do believe time will heal..
But I also believe that the scar that’s in my heart will stay…
that is why then I hope that I will not experience the same excruciating pain again so that the scar won’t bleed again…

and eventually.. I’ll be the old bitch that could protect my own damn heart..
be prepared for another upcoming heartbreaking events..

hopefully I’ll survive…

Bookmark and Share

Badan gue sakit2an mulu.. dan setelah sekian pemeriksaan dokter dan perbincangan singkat dengan ’si Bapak’, akhirnya gue menyadari sesuatu:
it’s not just my body, IT IS ME who’s hurting inside out!
It’s me that make me sick.

Dan please… jangan tanya kenapa karena gue juga ga tau. Periode depresi dan gundah yang tak berujung ini entah kapan mencapai titik terang. Entah kapan juga gue akan bisa masuk ke periode manic karena nampaknya saat ini gue sangat butuh untuk menjadi manic! Paling ga saat gue manic, mood-nya akan cukup mengangkat semangat gue lagi untuk ngerjain laporan yang menumpuk, yang selama ini terus gue hindari dengan melakukan serangkaian defense mechanism. huhuu…

Capek booo… capek… huhuhuhu…

I need to get out of this life I’m working on now…
I need to be honest with myself…
I need to figure myself out, coz’ it’s seems that I’m losing myself…

Really need to get back to be the "bitch" I’m used to be.. an extra independent woman, strong, healthy, confidence, and optimistic!!! (by the way,if any of you have the opportunity, ladies please read: WHY MEN MARRY BITCHES. It’s SO GOOD!!)

I need to get back to be the kind of woman who CAN survive being left alone..
who CAN be happy & satisfied with herself…
who CAN take no for an answers without feeling that I’ve been being utterly misbehaved and rejected…

But now, I’m trapped.. in my own game of life and I don’t know how to get out without hurting myself even more…

God, HELP!

Bookmark and Share

Inilah semua "G" yang bikin ga tenang…

Gendut..
Gundah..
Gelisah..
Gamang…
Gemes…
Gregetan..
Gantung…

Kar’na apa?!? GA TAU!!!! GA MAU TAU!!!! aaaaarrgggghhh… jadi uring-uringan…
Kecemasan merajalela dan aku sungguh tak berdaya.. Nampaknya "defense2"-ku ga berjalan baik. Buktinya aku masih cemas dan masih sadar bahwa aku "defense" berarti kan bukan "defense"… or is it?!? Whatever…

Tetap mencoba berpikir positif, mensyukuri yang diterima dengan baik, mengharapkan yang baik pula… sambil berusaha mengenyahkan kecemasan tak berujung ini. Huh!!! Kalo begini ini, semakin sibuk semakin baik biasanya. Musti lebih banyak bernyanyi, mungkin akan mulai menari lagi, makin banyak ngajar lagi, atau mungkin main musik lagi sambil rekaman dan bikin lagu.
Anything to preoccupied my minds and avoid me from this agony…
Waduh.. ini mah defense lagi.
Huaaaaaaa….. Capek!

Bookmark and Share

Sumpah yaaa… hidupku rasanya kian lama kok kian membingungkan ya?!? Sakit yang menimpaku beberapa minggu ini juga semakin menyadarkan aku betapa aku terjebak dalam rutinitas yang tidak kumaknai secara mendalam… berlalu begitu saja… Beban laporan masih menggunung, jadwal ngelatih dan nyanyi begitu banyak menanti, klien-klienku yang baru menunggu ide2 cemerlang dariku untuk membantu mereka. Trus kenapa aku malah ngerasa mengalami demotivasi ya? kenapa seolah aku kembali dalam lingkaran ‘existentialism frustrations’?!?

Apa sih yang kucari? hmm… hidupku sesungguhnya relatih ‘mudah’. Tidak begitu banyak duka mendalam yang kurasakan, paling tidak jauh lebih ringan dan ada solusinya dibandingkan klien2ku. Lalu kenapa aku begini resah? Kenapa aku tak juga mendapatkan ’serenity’ yang kudamba? Apa aku masih kurang bersyukur? Bagaimana harus kutemukan makna dari aktivitasku yang bermacam2 ini?

Beberapa temanku mengatakan sakitku ini memang sudah layak dan sepantasnya. Beberapa bahkan mengatakan sudah waktunya aku sakit supaya aku belajar beristirahat. hmmm… Mungkin benar, aku memang perlu rehat total sejenak dari segala aktivitasku agar aku merasakan aktivitas mana saja yang kurindukan dan membawa arti untukku.

Tapi rasanya jika kujalani semuanya menyenangkan.. dan tetap MELELAHKAN.. Kta si Bulat, aku harus lebih menenangkan diri. Ga apa capek2 tapi hati dan pikiranku harus selalu dalam kondisi positif… hepi selalu. Dan aku langsung tertohok ketika dia bilang, " masa salah satu pioneer skripsi tentang happiness ga bisa sih membuat dirinya hepi senantiasa?" hmm… kesal aku dibuatnya! Tapi lama-lama aku teringat suatu kata-kata bijak, senjata pamungkas para psikolog yang selalu terganggu dengan persepsi orang bahwa seorang psikolog harus ’sempurna’:

" Psychology for YOU"… ha.. not for me.. as in the psychologist.. jadi ga heran kan kalo kami yang belajar psikologi kadang juga heran dengan diri kami sendiri. hehehe… wong psikologinya buat Anda.. And then again, psikolog juga manusia kok… we’re not flawless.. we ARE with LOTS of FLAWS.. just with an ability to see our flaws..

In terms of denial, I am, no better than you guys:)
And I think in terms of where this post is going, well.. it’s just another rasionalization:)

Bookmark and Share

AKU MAU!!!
(by Once)

Kau boleh acuhkan
diriku
Dan anggapku tak ada
Tapi takkan merubah
Perasaanku kepadamu

Ku yakin pasti suatu saat
Semuakan terjadi
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku

Reff:

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Slalu bersedia bahagiakanmu
Apa pun terjadi ku janjikan aku ada (ooh yeah…

Kau boleh jauhi diriku
Namun ku percaya
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku (to reff, **)

**Aku mau mendampingi dirimu
   Aku mau cintai kekuranganmu
   Aku yang rela terluka untuk mu selalu

   Aku mau mendampingi dirimu
   Aku mau cintai kekuranganmu
   slalu bersedia bahagiakanmu
   apa pun terjadi ku janjikan aku ada

Bookmark and Share

Kesetiaan… hmm… suatu kata yang sangat familiar dan identik dengan cinta dan hubungan romantis. Banyak orang mengasosiasikan cinta yang dirasakannya dengan kemampuan untuk bersikap setia pada pasangannya tersebut. Pertanyaannya kemudian apa memang iya kalo cinta pasti setia?

Aku selalu menganggap aku sebagai orang yang setia. Pengalaman percintaanku sebelumnya memang menempatkan aku sebagai korban dalam perselingkuhan atau jadi orang yang tidak di-setia-i oleh pasanganku. Jadi aku selalu beranggapan aku orang yang setia. Tapi memang kesetiaanku ini tak pernah dapat ujian apa pun. Dan setelah menonton sebuah film Indonesia di suatu minggu siang (booo… keliatan dong se-stres apa gue kalo setuju nonton film Indo trus siang2 bolong pula hari MInggu.. huhuhu…), aku pun rasanya terpaksa meralat keyakinanku tentang kesetiaan yang selama ini aku pikir aku punyai. Beberapa kondisi mengindikasikan aku ga "se-setia" itu lho…

First of all, ‘flirting"…. hmmm… now that I think of it, I do flirt a lot with numbers of people. But, that’s who I am… aku memang orang yang ramah, supel, dan selalu pengen menjalin relasi yang dekat dengan orang-orang yang kukenal. Tapi emang sih, dengan beberapa pria aku merasa memiliki hubungan yang istimewa. Maksudku, kami punya bahasa tubuh dan cara komunikasi yang unik dan emang menunjukkan kedekatanku dengan masing-masing orang tersebut. Dan di tengah status-ku yang ga jelas ini, itu bukan ga setia dong namanya?!? Ataukah.. iya?!?

Secondly, "tell and lie"… ini juga nih… uuh.. bikin galau! aku memang suka memilah-milah informasi mana yang harus kusampaikan pada orang A, B, dan lain2. Ga semua masalah kuceritakan pada orang yang sama. Dan akibatnya aku dekat dengan cukup banyak orang dengan cerita atau kisah hidup yang berbeda2 perspektifnya. And, yes.. I do tell a lie to them once in a while… well, because I don’t want them to get hurt if they know the truth.

Uups!!!! wait a minute… Bukannya ini perkataan ‘mantan’-ku ketika akhirnya kami bertengkar hebat dan aku mengkonfrontasikan ‘kebohongan’ yang selama ini dilakukannya padaku. Saat itu ia pun berujar, "aku ga pernah bohong. aku cuma ga cerita hal-hal yang menurut aku bisa nyakitin kamu, Re, kalo aku cerita ke kamu. yang penting kan aku sayang sama kamu…"

hmmm… aku mulai ragu… apa iya kalo sayang dan mau melindungi orang yang kita sayang "white lies" itu sah-sah aja? Trus ketika kita dah bohong dengan orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, apakah ini masih dalam kategori setia?

Gimana dengan orang-orang yang tetep dalam hubungan pacaran, tunangan, ataupun pernikahan trus jatuh cinta atau sayang dengan orang lain yang bukan dengan pasangannya? Apa kalo mereka ga menunjukkan perilaku apa pun untuk mengekspresikan sayangnya itu atau kalau mereka ga cerita ke pasangannya sedekat apa mereka dengan orang lain yang disayang itu, maka apakah mereka masih bisa dikategorikan setia?

‘Bapak’ selalu ketawa dan mencemooh aku kalo aku ngomongin soal ini. Apalagi kalo aku dengan bersemangat mengecam seseorang yang perilakunya kuanggap ga setia pada pasangannya. "Re.. emang kamu bisa jamin suatu saat cinta kamu ga luntur dan kamu ga akan pernah jatuh cinta lagi ama orang lain yang bukan pasanganmu?", katanya sambil tertawa. Waktu itu aku berusaha keras mendebatnya dan tentunya berakhir dengan kegamangan di pihakku.

Iya sih.. poligami adalah konsep yang ada sejak zaman pra-sejarah… mulai dari  manusia pertama "homo sapiens" ada. Ini sesuatu yang kodrati untuk bergaul dan bercinta dengan lebih dari satu orang. Setelah peradaban modern muncul, barulah orang mengenal konsep monogami. Jadi bener juga sih kalo ada perlawanan kodrati yang hebat dalam mencoba untuk setia.

Tapi tetap saja aku berpendapat, memilih untuk monogami merupakan suatu bukti bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang lebih unggul dan mulia dibandingkan nenek moyang kita para "apes".. Kita diberi kebebasan untuk memilih dan pilihan yang kita ambil itulah yang menentukan integritas kita sebagai manusia. Ketika kita memilih, mencoba mempertahankannya, dan gagal… well.. itu urusan lain lagi. Sama seperti orang yang digoda setan, imannya akan lebih kuat jika ia berhasil melewati godaan dibandingkan dengan orang yang memang tidak pernah digoda setan. Begitu pula dengan cinta. Saat kesetiaan teruji, mungkin cinta akan semakin besar dan berdiri kokoh layaknya pohon yang tumbuh subur.

Dan aku masih akan mencoba untuk setia.. meski kini aku juga sadar bahwa kesetiaan bukan suatu kemuslahatan dalam cinta. Ketika seseorang tidak setia, maka tidak selalu berarti tidak ada cinta di sana. Dan definisi tentang kesetiaan masih harus kucari dan kuuji dulu kelayakannya.

Oh well.. ternyata ada gunanya juga nonton film Indo itu..

Bookmark and Share

Older Posts »