Semangkuk es krim penerimaan..
July 24, 2008 by archangela-meandmythoughts
Acceptance.. atau ‘nrimo kalo orang Jawa bilang.. rasanya dah berkali-kali kutekankan ke semua klien-klienku yang mengalami berbagai masalah. Mulai yang sekedar ga bisa menerima jurusan yang sekarang dijalaninya, orang tua, pacar, kesehatan, bahkan menghadapi kematian.
Aku berusaha keras membuat mereka semua mencapai penerimaan itu. Dan tugasku kemudian menjadi luar biasa sulit… atau jika rasanya tercapai.. hmm.. ga bertahan lama. Kalo menilik pada pengalamanku sendiri, hmm.. ini memang target terapi jangka panjang yang pencapaiannya sampai sekarang masih dianggap suatu mukjizat. haha.. Aku membahas ini dengan teman-temanku dan sampai pada beberapa kesimpulan.
- Menerima bukan berarti beradaptasi… Salah seorang temanku mengatakan bahwa ia bisa menerima kalo pacarnya
adalah orang yang pasif, lamban, dan tidak romantis. Tapi ini tidak
membuatnya menurunkan standarnya terhadap seorang pacar
ideal. Ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan ini.
Akibatnya, rasa gundah dan resah itu tetap ada. - Temanku yang lain bilang kalo perilaku seperti di atas itu ya berarti belum menerima, melainkan sekedar tahu aja. Memang sih kalo kata orang Jawa ‘nrimo itu disertai dengan keikhlasan hati. Nah, kalo masih menuntut dan uring-uringan ketika itu ga tercapai, apakah sudah disertai dengan keikhlasan hati?
Dan Senin lalu aku bertemu si "Bapak".. setelah energiku terkuras habis menemui klien dan bimbingan dengan dosen. Spontan serentetan keluh kesah mengalir deras dari mulutku. Si Bapak hanya menyeringai dan mengatakan "percaya kan sekarang bahwa kamu masih anak anjing?!? belajar dewasa itu emang susah kok!"
Dan seperti biasa aku pun langsung defensif… mencoba membela diri mati2an dan menolak untuk menerima anggapannya bahwa aku belum juga dewasa. Pembelaanku yang paling pamungkas adalah mengatakan bahwa segala curhatan yang aku katakan tadi bukannya tidak disadari sebab dan akibatnya. Aku pun mengaku tahu apa yang harus dilakukan. Aku berdalih aku bisa kok menghadapinya, tapi lagi suntuk aja dan butuh re-assurance.
Lagi-lagi dia hanya tertawa. "Tau sih tau, Re.. tapi apakah kamu menerima itu? Ga ada keputusan yang selalu benar. Apa pun yang kamu rasakan dan putuskan sekarang adalah berdasarkan penilaianmu atas situasi dan kondisi yang sekarang kamu hadapi. Yang dulu kamu buat, bukan berarti salah. Yang dulu kamu putuskan tetap benar berdasarkan situasi dan kondisi saat itu. Mana bisa kamu berharap ga akan disakiti, ga akan salah langkah lagi? Kamu terus berubah, begitu pula orang di sekitar kamu"
Trus gimana dong? Aku cuma pengen tahu kenapa aku sampai di sini, dalam perasaan ini. AKu pengen tahu alasan di balik segala peristiwa yang menimpaku. Aku begitu merasa insecure pada diriku. Aku merasa perlu tahu karena ga mau kalo aku melakukan kesalahan yang sama yang membuatku sakit hati sendiri. huhuhu… Kata-kataku mulai tersendat dan rasanya mataku berkaca-kaca.
"Makanya saya bilang kau belum dewasa, Re.. Ketika kamu mencapai kedewasaan itu, maka kamu ga lagi peduli tentang alasan di balik kejadian-kejadian yang sudah lewat.Toh ga ada kan yang bisa kamu lakukan? Kalo kamu sudah dewasa, kamu akan sadar bahwa setiap hal beresiko dan akan berubah. Kamu ga bisa mencegah dan mengontrol setiap hal, kecuali hati dan pikiran kamu sendiri. Ketika kamu tahu ini, kamu ga akan takut mengambil keputusan apa pun. Karena kamu sudah bisa mengantisipasi segala kekecewaan yang akan muncul. Dan akhirnya kamu akan bisa menerima dan menjalani hidupmu apa adanya."
Ketika melihat aku mati kutu dan tak mampu menjawab kata-katanya, si Bapak pun meneruskan, "Ga usah stres gitu. Kalo kamu masih ga bisa juga tenang, blum bisa menerima, ga apa. Kan masih bisa nyanyi atau makan es krim?!? Biasanya paling manjur kan buat kamu?!? hehehehe.. "
Si Bapak pun ngeloyor pergi sambil masih terkekeh-kekeh… meninggalkan aku termenung-menung.. berusaha mencerna apa yang baru saja kudengar. Dan tiba-tiba saran untuk bernyanyi atau makan es krim sangat tepat untuk dilakukan.
Aku pun ikutan ngeloyor pergi.. membayangkan semangkuk besar es krim sambil bernyanyi-nyanyi, "Qui serra-serra, whatever will be, will be.. ".
Dan ketika saat ini kegalauan kembali melanda, hasrat untuk menyantap semangkuk besar es krim kembali muncul. Mungkin inilah bentuk penerimaanku atas hidup.. makan semangkuk es krim sambil bernyanyi.