Feed on
Posts
comments

Gamang…

" .. menyakitkan bila cintaku dibalas dengan dusta.."

 

Audy ternyata benar… meski aku tak lagi bersama ‘mantan’-ku… ketika kenyataan demi kenyataan semasa kami masih bersama mulai terkuak, maka menganga-lah kembali luka hati.. yang bahkan menusuk semakin dalam hingga aku tak bisa bernafas… Memang aku tak lagi bersamanya, tapi kalau tahu betapa ia ternyata hanya membohongiku selama ini dan mempermainkan hatiku, apakah aku masih bisa bertahan untuk tidak menjerit dan meraung-raung sekeras2nya penuh amarah dan rasa frustrasi?!?!

Meski tak lagi mencintai mantanku, kala itu aku tulus memberikan hatiku padanya… Dan ternyata…

SHOCK!!! itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku saat mengetahui segala kebenaran ini. Ga nyangka?!?! Pastinya!!! dan self esteem-ku turun dahsyat ke level terendah. Kalo aku yang lulusan S1 psikologi ini ditambah dengan 2 semester di profesi Klinis Dewasa aja ga bisa menilai seseorang dengan akurat, apalah jadinya hidupku?!? padahal semua klienku akan memerlukan kejelianku menilai karakter mereka dan orang2 di sekelilingnya.. aaaarrrggghhh…

belum lagi aku sudah mulai menyerahkan hatiku pada seseorang yang kini bersamaku.. bagaimana kalo aku salah lagi?!? bagaimana kalo sekali lagi aku tersakiti?!? aku menolak disakiti lagi, tapi apakah aku masih berdaya menentukan orang yang tepat untukku??? apakah penilaian hati dan pikiranku masih valid menilai siapa pun setelah kebenaran tragis yang kuketahui?!?

Sungguh aku gamang luar biasa…

Harusnya jam segini gue dah tidur.. atau di depan komputer sambil ngerjain laporan… tapi gue malah masih bangun, ga bisa tidur, di depan komputer… bengong… ga ngerjain laporan juga. Padahal dah numpuk booo… Huh!!! nampaknya kena sindrom prokrastinasi besar-besaran lagi gue nih… huaaaa… 

oh well, karena gue dah bangun juga dan ga.. ok.. belum berniat ngerjain laporan, maka mari kita uraikan satu-persatu pikiran yang berkecamuk di benak gue ini.

First of all, eyang gue… it’s kinda sad and makes me worry to sick.. hari ini eyang gue yang dah beberapa hari di RS ternyata keadaannya memburuk lagi dan harus masuk ICU lagi. hix.. padahal hari senin lalu ia dah nampak segar. sungguh tak diduga… moga-moga segera membaik keadaannya yaa… Bukan hanya untuk eyang tapi juga untuk gue dan seluruh keluarga. Biar gimana berat juga lho nanggung beratnya beban pikiran, perasaan, and of course… BIAYA!!!!

And it makes me think of "National Health Care"… ini topik kampanye yang lagi hangat2nya diperbincangkan di Amerika. Baik Obama ataupun Clinton, dua2nya punya multi-billion dollar plan buat kesehatan yang mereka anggap masih buruk pelayanannya di Amerika. Ouch!!! kalo di sana, yang hampir semua orang punya asuransi kesehatan, kalo sakit ga harus susah2 nyari surat rujukan dulu, ga harus pilih2 mau RS mana dan obat generik mana yang diminum biar biayanya diganti, oh well… kalo gitu dibilang buruk, mungkin dua kandidat presiden itu akan pingsan saking pusingnya, atau malah mengundurkan diri,  kalo disuruh membenahi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Ga tau musti mulai darimana boo..

Well, kan udah hampir 3 minggu ini gue praktek institusi di sebuah RS umum milik pemerintah, yang katanya jadi RS rujukan itu lho… dan kondisinya, menurut gue, mengenaskan. Bangunan tua, agak reyot di beberapa bagian, penerangan yang kurang, bangsal yang terkesan kumuh, pelayanan yang kurang baik dan sangat tidak menguntungkan untuk orang2 yang ga punya uang, and the list goes on…

Yang bikin gue shock adalah bahwa orang2 yang sudah berobat dengan kartu asuransi yang menyatakan mereka miskin, masih harus membayar buat JARUM SUNTIK!!!!
hah?!? sumpah gue kaget banget! Kalo gitu bagian dari pelayanan dan subsidi RS atau pemerintah apaan dong?!? Alasannya klise, kan jarum suntik cuma bisa sekali pake, bisa rugi RS kalo menyediakan jarum suntik gratis. Heh?!? kalo mereka yang miskin itu makan aja susah, obat aja ga mampu beli, masa disuruh beli jarum suntik??!?
trus dengan teganya obat itu ga akan diberikan kalo si pasien itu ga beli jarum suntik booo… Gilingan ga seh?!!??

Tapi mana ada yang mikirin segitunya di sini?!? makanya gue semangat banget ngeliat debatnya Obama- Clinton. Buseeeettt deh… kelas tinggi boo!!! mereka ga hanya jual janji. Dalam debat itu, semuanya konkret. ada program yang udah disiapin beserta besaran dana dan dari mana mereka akan dapetin dana untuk program itu. Bisa pula diproyeksikan secara statistik dengan akurat dalam beberapa tahun ke depan. It’s incredible!!! And the way they create programs for the benefits of American citizens (not just people)… yes, it includes all the immigrants (legal and illegal) and overseas students, and workers.. Well, just all of them who live in USA. They even think about other countries and how they could contribute to a better life for the world…

coba kalo politisi sini yang kampanye atau ada debat publik.. huh! cuma kayak nonton dagelan aja. Ga mutu sama sekali!!!! Yang ada malah saling nyerang di media, menjatuhkan satu sama yang lain. Ga bersaing secara sehat, ga berusaha meras otak gimana caranya menang pemilu dengan program yang lebih banyak memenuhi kebutuhan masyarakat… Tapi malah mikirin gimana caranya menang dengan segala cara, haram sekalipun.. sogok kiri, sogok kanan boo..

Demokrasi dan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara tuh memang mahal harganya… dan butuh proses yang luar biasa puanjaaaang… Coba deh nonton film2 Amerika. Akan tergambar jelas bagaimana bahkan sampai sekarang mereka yang sudah lebih dari 200 tahun merdeka aja masih kesulitan dengan yang namanya demokrasi itu. Ingat aja setelah 70 tahun merdeka, Amerika masih berusaha keras memerangi rasisme dan perang saudara. boo… kita aja belum nyampe 70 tahun merdeka. Pantesan aja ini negara masih ga karuan ya?!?!

2 tokoh mantan presiden kita sudah wafat. Mereka yang dengan segala kekurangannya itu ternyata justru menumbuhkan semangat kesatuan dan kebangsaan yang luar biasa. Di tengah alam demokrasi yang katanya semakin terbuka dan bebas, kita malah semakin individualistis dan apatis. Banyak orang bilang ini kan pengaruh budaya barat, pengaruh modernisme, dan juga hasil antek-antek Amerika yang merusak sistem kekerabatan, de-el-el. Tapi coba telaah baik2.. di tengah keindividualistisannya, malah negara2 seperti Amerika-lah yang warganya saling peduli satu sama lain. Merekalah yang akan buru2 telp polisi begitu beberapa hari tetangga sebelah rumahnya ga nongol2, panggil pemadam kebakaran untuk nurunin kucing tetangga yang nyangkut di pohon, bantuin orang yang kesusahan di jalan raya… Banyak banget deh… Biarpun mereka sekuler tapi penghargaannya terhadap kehidupan begitu besar… sangat humanis dan saling peduli satu sama lain.

Sedangkan kita yang ngaku negara beragama, religius, ramah, bla..bla…bla…
Mana ada kepeduliannya kayak gitu?!? Semua cuma terbiasa dengan ritual, ketaatan, kepatuhan pada hal2 yang semu… yang sekedar untuk ditonton dan dihargai orang, tetapi tidak membawa manfaat.

Sampai kapan?!?! Ga taulah… Banjir di Jakarta aja ga kelar2 diurus, padahal itu kan masalah konkret yang dengan ilmu pasti, seperti Geografi dan Fisika, bisa dicari penyebab dan penyelesaiannya. Gimana kalo masalah yang abstrak kayak menata kehidupan berbangsa dan bernegara?!? huaaa… Gawat!!! Logika sederhana bahwa kita kurang daerah penyerapan air dan sistem drainase yang buruk aja ga ngerti2, kok mau mikirin demokrasi ya?!? kemarin gue hampir kejengkang dari kursi waktu baca Departemen Kehutanan setuju membebaskan hutan lindung untuk perluasan jalan tol menuju bandara. Hello?!? are they insane?!? Apa logika sederhana yang tadi gue sampaikan susah banget ya buat dicerna?!? apa ga makin banjir ampe kelelep tuh kalo hutannya dibabat lagi?!? Sinting marinting!!!!!!

Gini kok berani2nya jadi penyelenggara konferensi Global Warming. gimana mau mencegah dan membantu mengatasi kalo polusi udara, banjir, lingkungan hidup, sampah, kebersihan aja susah ngaturnya. Restoran2 masih pada pake sterofoam, gelas plastik "take away", plastik belanja di supermarket, dll. Usaha menghemat batu bara dan minyak bumi eh malah ngabis2in gas bumi. Dan dengan BODO-nya menarik minyak tanah dari pasar tanpa menguji pasar. Apa ga tau berapa sih penghasilan para tukang batu, tukang ojek, tukang sayur yang ada di Jakarta aja misalnya. Kalo sehari2 duitnya ga jelas, cuma punya beberapa ribu, masa sih disuruh beli 1 tabung gas yang pasti harganya lebih dari 10 ribu?!? sedangkan minyak tanah bisa beli 1/2 liter aja atau malah ditimbang sesuai duitnya. hayooo… do they ever think that?!?

Atau penyelesaian macet dengan perbaikan infrastruktur (bangun busway) yang ternyata malah memperparah kemacetan. Kenapa ga serentak aja dibangun, dibuat peraturan yang jelas, pengurangan kendaraan bermotor secara tegas, pengaturan trayek angkutan umum lainnya, perbaikan sarana umum, seperti halte, stasiun, bus, angkot, dan kereta api secara menyeluruh, menyiapkan jalan atau rute, trus baru deh dijalanin busway-nya… Baru namanya mengatasi masalah secara menyeluruh.

Dah gitu dengan gobloknya… iya goblok gue bilang… sok2 bijaksana dengan memperbolehkan orang2 masuk jalur busway dan kadang2 meniadakan 3 in 1… heh?!? gimana sistemnya mau jalan kalo diacak2 sendiri terus2an. Kapan orang Jakarta sadar enakan naik busway daripada naik kendaraan pribadi kalo mereka toh menikmati akses jalan yang sama dengan para penumpang busway. Coba tegas, lama2 juga pada males bawa mobil, atau karena ngiri setiap hari liat busway melaju dengan kencang di jalur khusus, selama kita bermacet2 ria di jalan biasa.

Tentunya jumlah busway harus ditambah dulu dan dengan jadwal yang FIX!!! misalnya tiap 5 atau 10 menit sekali. kayak jadwal trem atau subway di negara2 maju. bahkan sampai detiknya juga persis lho kalo di sana. makanya ga heran ama jadwal yang 10.01 karena emang EXACTLY jam sepuluh lewat satu menit itu kereta dateng. Itung aja kalo ga percaya… hehehe..

Ini bisa jadi latian disiplin yang luar biasa lho buat masyarakat. Kan lama2 jadi tau kalo ga tepat nyampe haltenya ya bisa ditinggal dan akibatnya telat masuk kantor, dikasih SP, trus dipecat… hayooo ga ada yang mau kan!?!? makanya akan pada bisa lebih on time jadinya.

trus soal busway, juga harus dipikirin lahan parkir buat orang2 yang rumahnya jauh dari halte busway. misalnya di Selatan di mana markir mobilnya, trus di utara, Pusat, dll. Kayak orang2 amerika yang komuter biasa parkir di Grand Central atau stasiun2 sebelum mereka akhirnya naik kereta untuk ke tengah kotanya. Jadi kan ga macet2 amat tuh. wong mobilnya berkurang.

 

Yaaa.. pokoknya banyak deh. Tiba2 aja serentetan hal2 itu kepikiran ama gue. Dan jadi kepikiran juga gimana ya caranya biar keadaan jadi lebih baik?!? Hmm… masa gue nantinya akan hidup dalam kesulitan dan kemelut yang sama sih dengan nenek kakek buyut gue yang hidup susah ngentri minyak dan beras di zaman penjajahan… NO WAY!!! trus gimana!!??!! apa musti pindah negaraa?!? gila aja kali ya??!!Ya tapi emang bakalan gila semua orang kalo keadaaanya gini terus atau lebih parah lagi.

trus gimana?! ini jadi PR kita sama2 kali ya?!? hehe.. Selamat ikutan berpikir:)

Kalo baca judul tulisanku kali ini jadi mengingatkan akan masa2 SD ga sih?
Pas liburan dulu kan kita selalu disuruh bikin tulisan atau esai tentang liburan yang harus dibacakan di depan kelas setiap kali liburan usai. well, at least mine did!!

Tapi dulu jarang banget ada cerita tentang liburan ke desa. Ya iyalah.. kan kita semua tinggal di Jakarta dan seringkali begitu pula dengan keluarga dan kerabat dekat. Cerita berlibur ke desa yang diceritain Bu Guru dan Pak Guru hanya ada di angan-angan atau fantasi belakalah.. Meski pernah juga pulang kampung ke Blora, Cepu, Kaliurang, dan sekitarnya.. hmm… ga se-"desa" yang aku bayangin pas diceritain tentang liburan ke desa. Sampai beberapa hari yang lalu…

Liburan Natal tahun ini aku habiskan di Bandung. Ini sebenernya kunjungan rutin ke keluarga bokap yang sebagian besar emang ada di Bandung (meski lahir di Jogja). Nah, tahun ini selain ke rumah eyang, kami pun memutuskan untuk bersama-sama menginap di "villa" Tanteku di atas gunung. Duh, tapi jangan tanya gunung sebelah mana yaaa…. aku juga ga bisa menjelaskan. Pokoknya di atas gunung deh..

Dan itulah "desa" yang aku bayangkan.
Jalannya kecil… muat mobil sih.. tapi pas buanget. Hampir ngeri aku melihat kiri kanannya yang jurang. trus masuk ke pelataran atau halaman yang lumayan luas. Ada rumah kecil di sana yang disebut "villa" tadi. Tau ga kenapa aku senantiasa mengutip kata villa? well.. kalo villa kan identik dengan besar, megah, dan mewah. Ini jauh banget dari itu. Terbuat dari kayu, dengan dinding batu bata yang tidak disemen atau dicat. sungguh "ndeso" banget… tingkat sih.. tapi dengan gaya rumah panggung. kamar mandinya ada di luar "villa". agak turun ke bawah, mendekati sumber mata air yang jernih dan dingin. hmmmmm… luar biasa!!!

Trus di sebelah "villa" itu ada kebun yang luaaaaaasssss banget dan penuh dengan berbagai tanaman, seperti pisang, singkong, pepaya, mangga, jagung, strawberry, jeruk… de-el-el.. pokoknya muacem2 buanget deh. Ada kolam ikan mas yang diternakan dan juga kandang sapi…. dengan sapi nan gemuk yang sungguh lucu. Norak ya?!? But.. Gosh… I’m so excited!!! ga habis2nya aku berdecak kagum dan mengajukan seribu satu pertanyaan tentang "villa" dan kebun ini.

Ternyata ini hasil karya Oomku sepenuhnya. Karena hobi bercocok tanam, maka ia menghabiskan waktu2 sengganggnya untuk membangun dan merawat "villa" impiannya. "Villa" yang bernuansa desa… just like I imagine. Bahkan dari "villa" aku bisa melihat rumah2 sederhana lainnya di sekeliling kebun dengan sawah dan kebun jagung serta strawberry. Di malam hari, nampak lampu2 kota yang bergemerlapan di kejauhan. Benar2 pemandangan yang menakjubkan.

Aku merasa senang sekali dan merasa nyaman tinggal di suasana pedesaan seperti ini. Sempat terbersit di benakku untuk punya tempat seperti ini di masa mendatang sebagai tempat "pelarianku" dari segala hiruk pikuk rutinitasku. Mungkin juga sebagai tempat tinggal kelak di masa tua… hmmm… mungkin ini ide yang cukup bagus. Konon katanya udara yang segar di pegunungan dan ritme hidup yang lambat bisa membuat kita panjang umur lho…

Ya mungkin… let’s see about that later… mungkin ga harus salah satu kota kecil di Eropa seperti angan-anganku dulu, tapi mungkin suatu daerah dingin di Indonesia bisa jadi tempat tinggalku saat pensiun kelak.

Yang jelas, liburanku sungguh mengesankan. Apalagi karena situasi pedesaan yang tenang itu dipadupadankan dengan alunan lagu-lagu Natal yang bernuansa Barat dan modern. Sungguh suatu perpaduan yang manis. Aku menghabiskan malam di atas dipan di depan "villa".. memandangi langit berbintang dan lampu2 kota di kejauhan dan sayup2 terdengar suara Nat King Cole bersenandung… "And have yourself a merry little christmas night…"

And indeed.. I’m having it!!!

Natal selalu membuatku merasa "lain"… setidaknya dalam beberapa tahun. Ya.. memang ga setiap tahun ke"lain"an itu kurasakan, tapi justru itulah yang selalu kunantikan… berdebar2 ingin tahu apakah tahun ini kembali terasa "lain"…
Dan semakin hari aku semakin ingin cepat-cepat sampai pada hari Natal itu.

Mungkin para pembaca sekalian akan bingung dan ingin tahu apa sih ke"lain"an yang kumaksudkan. Well, sayangnya aku sendiri tak yakin sanggup mendefinisikan emosi, perasaan, ataupun pikiran yang sangat kompleks itu. Entahlah… mungkin seperti orang yang sedang "kasmaran"… ada saja hal2 kecil yang membuat ceria. Hmm… salah satu contohnya mungkin seperti pada saat aku duduk di ruang tamuku, sendirian di malam hari dan menatapi pohon Natal… pohon yang kupasang bersama orang tuaku.. pohon yang kami hiasi dengan penuh kesungguhan… dan.. cinta kasih.. hmmmm… what a peaceful and wonderful moment that is..

Aku bisa duduk berpuluh2 menit di sofa itu dan membiarkan pikiranku melayang… menari2 sendiri di benakku… sekelebat demi sekelebat gambaran peristiwa senang dan sedih terlintas. Sesekali tiba-tiba aku meneteskan air mata. Sedih?!? hmm… tidak juga. Lalu, bahagiakah?!? Aku tak tahu. Yang jelas itulah salah satu ke"lain"an yang kurasakan selama Natal.

Apalagi jika diiringi dengan lagu-lagu Natal "tradisional" yang semua sudah kuhafal liriknya… sudah ribuan kali kuputar dari tahun ke tahun… tapi justru lagu-lagu Natal itulah yang membuat suasana Natal semakin nyata dan mendukung lahirnya ke"lain"an yang kurasakan…

Coba saja bayangkan di malam yang sepi dan dingin… diiringi bunyi air hujan, dan lampu pohon Natal yang gemerlapan.. tiba-tiba terdengar suara Frank Sinatra, Tony Bennet ataupun Nat King Cole membawakan lagu "Have Yourself A Merry Christmas", "White Christmas", "O Holy Night", "Silent Night" dan masih banyak lagi lagu2 tradisional Natal lainnya yang menghangatkan perasaanku.

Adapula ke’lain"an yang berbeda. misalnya saat aku sibuk menuliskan kata-kata mutiara di kartu Natal yang hendak kubagi-bagikan pada teman dan kerabat… atau saat berbelanja hadiah-hadiah Natal.. hmmm… terkadang aktivitas2 ini juga membawa rasa "lain" di hatiku. Sayangnya, tahun ini aktivitas2 ini tak lagi kulakukan. Padatnya jadwal kuliah dan tugas2 nyanyi membuat aku tak sempat melakukannya.

Huhuhu… sejujurnya aku sedikit merasa kehilangan karena ke"lain"an yang jenis itu tak bisa kurasakan tahun ini. Dan ini membuatku tersadar, aku rasanya harus melambatkan laju roda hidupku saat Natal tiba. Biar aku tak dipusingkan dengan hal-hal lain di luar Natal… dan akhirnya membawaku pada aktivitas2 yang menghadirkan ke"lain"an itu.

Selain itu, aku rindu merayakan Natal hanya bersama keluargaku di tempat lain seperti yang pernah kurasakan beberapa tahun yang lalu ketika kami merayakan Natal di Beijing. hmmm… indahnya… Ada salju, dekorasi Natal yang luar biasa indah di sepanjang jalan, sapaan ramah "Merry Christmas" dari setiap orang yang kami temui.. hmm… benar2 menyenangkan… Di beberapa tempat, Natal memang bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi menjadi tradisi dan budaya akhir tahun yang menyenangkan, meski mereka tidak merayakannya.

Belum lagi cerita2 temanku ttg pengalaman mereka berNatalan di luar negeri. Sungguh luar biasa dan membuat iri. Tapi tentunya Natalan harus dirayakan bersama keluarga atau orang-orang yang dikasihi. Tanpa mereka Natal seolah kurang rasa "lain" itu.

hmm… aku jadi teringat masa-masa aku masih bersamanya…
Meski tak merayakan Natal, apresiasinya terhadap perayaan Natal sungguh luar biasa. Dia bisa merasakan keindahan lagu2 Natal yang diputar di mal-mal, meski dengan kualitas yang sangat sederhana. "Amatiran sih.." begitu ia menyebutnya. Waktu itu aku hanya menertawakan kenarsisannya. Tapi diam2 aku jadi lebih menghargai lagu2 tersebut. karena makna yang lebih dalam yang terkandung di dalamnya, bukan hanya bagus tidaknya performa orang2 yang memainkannya. (uupsss… jadi inget betapa aku seringkali terjebak pada peningkatan performa temen2 choir-ku tanpa membantu mereka menyelami ke"lain"an… atau ke"magis"an lagu2 tersebut… pantas saja tak terasa mengena di hati).

Kami bisa duduk berjam2 di coffee shop, dengan hanya segelas besar kopi yang kami minum berdua. (sok romantis ya?!? hehehe.. ) Lebih banyak terdiam, menikmati suasana, dan diselingi obrolan ringan yang membuatku tertawa. Terkadang sekedar berjalan-jalan melintasi lorong2 mal yang dihiasi lampu-lampu dan ornamen Natal.. sambil bermimpi alangkah indahnya pasti Natal di negara lain.. negara yang sama2 ingin kami kunjungi di hari Natal.

hmm… itu salah satu ke"lain"an Natal-ku di tahun2 yang lalu. Tahun ini tak lagi begitu dan aku merindukannya.. Eiiitsss… jangan salah bukan "dia" yang kurindu. Kalo itu sih sudah tutup buku!!! Jalan kami sudah berbeda!! Maksudku… aku merindukan bisa berbagi ke"lain"an itu dengan orang lain.

Aku sekarang sudah "bersama" orang lain. Tapi entah mengapa kebersamaan ini tak terlalu terasa ke"lain"annya terutama di hari Natal. Kami semakin dekat, tapi sekaligus masih terasa jauh. Aku berusaha menggapainya, tapi seolah ada tembok tinggi yang dibangunnya di hadapanku. Aku ga ngerti… mungkin aku yang salah… mungkin aku yang banyak berharap… Harusnya kusadari bahwa tiap orang berbeda dan kehadirannya sekarang bersamaku sudah merupakan ke"lain"an tersendiri dan suatu keajaiban di hari Natal ini.

Yaaaa… begitulah Natal buatku. selalu menghadirkan keajaiban-keajaiban kecil yangtak kasat mata.. yang seringkali kelewatkan begitu saja karena banyaknya harapan dan tuntutan.

Di sisa beberapa jam menuju hari Natal ini, semoga aku lebih bisa merasakan ke"lain"an yang berbeda yang hadir tahun ini… dan mensyukuri kehadiran "dia" yang sekarang "bersama"-ku sebagai salah satu keajaiban Natal di tahun ini.

SELAMAT NATAL untuk kita semua yang merayakannya:))

"temper tantrum"…. "breng…breng..breng…"
terdengar suara IMD yang sedang mengamuk dengan wajah masam mempertanyakan mengapa statusku belum juga berganti. Padahal sudah hampir 2 bulan terlewati…

"Ya… gimana dong? wong orangnya ga ngajak pacaran?" jawabku kali itu. Waktu bertemu di tempat latihan, IMD cuma memberi muka masam dan mendengus pergi. nampaknya dia ga mau tau tentang kekisruhan yang ada di benakku tentang "masalah" ini.

Abis… emang segitu ngaruhnya apa ya? toh kami dah semakin dekat, dan mencoba terus lebih dekat lagi (iya ga sih?!?)… hmmm… dan selama masih asyik2 aja dijalanin gini juga ga apa2 kan?

well… ngerti sih kalo kekhawatiran IMD lebih kepada perasaanku. Tapi aku yakin kok kali ini proses HTS-an tak akan merugikanku. Paling tidak aku saat ini yakin dia bukan seperti yang lainnya yang hanya ingin mempermainkan hatiku. Nampaknya, hingga saat ini, tidak adanya status tidak membuatnya menduakan hatinya pada orang lain atau membuat aku sebagai obyek window shopping semata.
Jadi, sejujurnya sih aku santai2 aja.

Lagipula yang tak diketahui orang adalah akulah yang sesungguhnya khawatir. Aku sungguh ingin kali ini semua berjalan baik dan langgeng. Jadinya aku memang ga berani untuk melangkah terlalu cepat… khawatir salah lagi… cemas malah remuk sekalian hatiku… huhuuhuu… Seperti yang pernah kubilang aku takut jatuh cinta lagi.. karena aku takut patah hati lagi…

Maaf kalo aku terkesan menahan diri.. pelit dalam membuka hatiku. Memang aku belum pernah mengatakan padanya aku suka dia atau aku sayang dia, tapi harusnya reaksi dan perilaku yang kutampilkan menggambarkan apa yang kurasakan (semoga!)… apa pun itu.. (Damn! aku bahkan tak bisa self-reflective… aaarrrggghhh….) Dan aku memang tak mau berpikir. Biarkan saja ini mengalir apa adanya. Sekali lagi sebuah lagu terngiang di telingaku.. "kalo jodoh tak lari ke mana"
Yaa… semoga..

Tapi penjelasan ini nampaknya tetap tak masuk akal buat beberapa temanku. Mereka tetap mendesak aku memberi label, memberi kepastian posisiku dengannya. Sempat merasa terdesak, sempat merasa terjebak… sampai kata2 sakti temanku keluar dari mulutnya, "Ya terserah sih.. tapi kalau nanti ada orang lain yang berminat ama elo atau dia gimana? Mau cari masalah lagi?"

Dan dia pun ‘berkicau’ mengingatkanku mengenai beberapa kejadian cinta segi… hmm… ya banyaklah… yang beberapa kali dialaminya, teman kami, atau… oh well.. aku sendiri. Kala itu aku berprinsip selama janur kuning belum terpasang, kenapa kita harus menutup diri??!!?? Toh kami juga ga pacaran.. kan jadi aku ga bisa dikategorikan selingkuh dong ya?!?

Sayangnya hasil dari prinsipku itu tak sebagus harapanku. Aku terjebak antara dua hati. Tak sanggup menentukan mana yang lebih dekat di hatiku.. mana yang akan kuterima cintanya… (sebenernya kalo terima aja sih bisa dua-duanya, tapi aku harus memberi cinta pada siapa?!?) Lalu aku memutuskan untuk TIDAK keduanya!!!
Pilihan yang berat dan sangat menyakitkan. hmmm… mengingat itu, aku mulai goyah.

Belum lagi pengalamanku dengan "my most recent almost-ex". hahaha… dari namanya aja dah tau kan betapa complicated-nya hubungan kami kala itu. Karena ga ada status jadinya masing2 saling ga enak untuk negur kalo yang lain lupa (atau sengaja ga mengiraukan) sms, telpon, dan bahkan bisa berminggu2 ga ketemuan. Atau ga berani cemburu dan negur kalo yang lain sedang berakrab ria dengan orang lain (ini sih lebih sering aku kayaknya… secara dia lumayan tenar.. huhuhu…) Aaaaaarrrrrgggghhhh… padahal dari sisi aku, ya hatiku tertambat padanya. Dan akhirnya toh aku terpaku padanya selama 1,5 tahun lamanya… huaaaaa… Dengan hasil apa? NOTHING!!! dia juga ga kunjung mengambil keputusan akan dibawa ke mana hubungan kami… tak kunjung memastikan posisiku di hidupnya.. semua serba gantung.. serba ga jelas…

OK… OK… aku nyerah… biar ga ada kata "pacaran" resmi, toh kami memang menjalin hubungan yang lebih dekat daripada teman, so what?!? dengan melihat bahwa ia pun sudah mengganti profile-nya, aku pun tergerak. meski dengan super cemas… (gilaaa… ini sih tanda-tanda existential frustration lagi booo… ) akhirnya ku-update juga profile-ku.

Dan kini aku tinggal menunggu… menunggu kelanjutan kedekatan kami.. menunggu comment2 yang akan muncul dan mempertanyakan siapa yang bersangkutan itu. Dan gosip pun akan merebak… Mulai malas aku membayangkannya. Harus menjelaskan pada banyak orang tentang yang terjadi… dan aku mulai ragu lagi… apa benar ya keputusanku???!!??? Aaaaarrrrrgggghhhh… dasar obsesif!!! pasti akan berubah pikiran terus. Udahlah.. sekarang gini aja dulu. toh nanti di-update lagi juga bisa kan?!? intinya, akan kunikmati dulu perasaan ini (again, whatever it is)… dan kuhayati kebersamaanku dengannya. Just trying to find a meaningful and lovely feelings from it…

At least, I’m in a relationship… I’m with someone… and not being alone..
What the hell?!?!

Tulisan ini dah lama kubuat dan di-post-in di blog pribadiku yang ternyata sangat sepi pengunjung. Terdorong oleh rasa narsisisme yang tinggi, maka kuputuskan untuk meng-copy-paste-nya ke sini supaya ada orang lain yang membacanya. (Semoga!)

Keakuratannya boleh diragukan. Ini setengah fiksi, setengah nyata soalnya. Yang mana yang fiksi, yang mana yang kenyataan.. ya selamat menebak sajalah… ok?!?

THE UNEXPECTED…

Sometimes, we got something
out of nowhere…

Sometimes, something good
came unexpectedly…

And turn out to be
something… ehm… let’s see about that…

Aku penikmat musik, salah satunya musik
klasik. Sudah beberapa kali aku mendatangi konser paduan suara atau orkestra,
tentunya jika ada embel-embel harga mahasiswa… hehehe… Maklumlah, harga
tiket konser seperti ini membuatku harus merogoh kocek cukup dalam jika tanpa
embel-embel tersebut. Maka, sungguh kagetlah aku karena pada suatu hari seorang
Tante yang tidak kukenal tiba-tiba menawarkan tiket VVIP untuk suatu konser
orkestra di Balai Sarbini.

Aku bertemu Tante itu di sebuah pusat
perbelanjaan sepulang kuliah. Kami sama-sama sedang mengantri di kasir. Ia
berada persis di depanku dan tengah membaca brosur. Sekilas aku membaca nama
salah satu orkestra favoritku di sana. Karena penasaran, kuberanikan diri bertanya pada si Tante apakah aku
boleh melihat sejenak brosur tersebut. Ternyata si Tante baik hati itu baru
saja mendapatkan beberapa tiket konser secara gratis karena ikut menjadi salah
satu penyandang dana. Mengetahui besarnya minatku akan konser tersebut, ia pun
memberikan salah satu tiketnya padaku. Tante baik hati itu kebetulan
berhalangan untuk hadir malam itu. What a fortunate coincidence
J

Gilaaa!!! Nonton konser orkestra favoritku di
Balai Sarbini dan di kursi VVIP merupakan pengalaman luar biasa untukku.
Bayangkan saja jika aku harus membayar tiket tersebut, mungkin ludes sudah
tabungan hasil ‘ngamen’ berbulan-bulan. Jadilah malam itu aku super excited.
Tiba-tiba saja aku merasa harus tampil prima untuk nonton konser kali ini.
Lama aku mematut diri di kaca untuk memilih baju apa yang akan kupakai ke
konser. Tiba-tiba terdengar suara pembantuku, “Mba.. dah jam tujuh. Taksinya
dah nunggu tuh.” Astaga! Segera aku meraih tasku dan menuju taksi.

Sepanjang jalan aku berdoa agar supir
taksinya mengemudi agak cepat agar aku tidak terlambat. Akhirnya, taksi yang
kunaiki berhenti di depan Sarbini tepat pk19.30. Aku sudah mulai cemas. Tak
nampak ada antrian pengunjung… bahkan pelataran depan Sarbini sudah lengang.
Dalam hati aku memaki diriku, “Duh.. pasti konsernya sudah mulai. Dasar narsis.
Gini deh jadinya…”

Cepat-cepat kubayar ongkos taksi dan turun
tanpa menunggu kembalian.

Aku berlari menaiki tangga dan tiba-tiba,
“Auw!” (gubrak!) Aku pun terjatuh. Ternyata aku menabrak seorang pria yang juga
tergopoh-gopoh hendak memasuki gedung. Dasar pemilik tunnel vision. Aku
benar-benar tak menyadari kehadiran pria itu dari sebelah kananku.

“Maaf..” kata pria itu. “Kamu ga apa-apa?”
sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Iya.. aduh.. ga apa-apa. Maaf ya.. Saya yang
ga liat”. Aku pun mendongak, mencoba melihat wajah pria yang kutabrak.

“Re??!” kata pria itu.

Ya Tuhan… jantungku seperti berhenti
berdetak sesaat. Pria di depanku adalah Aji. Pria yang sudah beberapa bulan ini
memenuhi benakku… yang sudah lama ingin kutemui… dia sekarang berdiri di
depanku. Nampak seperti adegan sinetron pertemuan kami malam itu, tapi ini
benar terjadi.

“Kok kamu di sini, Re?!? Mau nonton juga ya?”

“Eh.. i.. iya..”, jawabku dengan gugup. Ya
ampun.. seperti orang bodoh saja aku. Aji masih menggenggam tanganku dan rasanya
pipiku memerah. Segera saja kutarik tanganku dan hendak bergegas masuk ke dalam
gedung.

“Duh.. maaf.. telat nih aku. Masuk dulu yaa..

“Eh,
bareng aja. Aku juga mau masuk kok. Lagian udah telat juga. Paling kita musti
nunggu satu lagu”.

Aduuuhhhh!!! Jeritku dalam hati. Gawat! Aku
deg-degan setengah mati.

Apa dia ga tau kalo beberapa bulan ini ga
mudah buatku untuk melupakannya? Entah kenapa tiba-tiba lidahku kelu tak bisa
berkata-kata. Segera aku berjalan memasuki gedung. Tanpa menengok lagi padanya,
kuserahkan tiket kepada penjaga pintu.

“8 A ya Mba.. naik tangga yang sebelah kiri”
Perempuan cantik itu mengembalikan tiketku dan mengambil tiket dari tangan Aji.
“17 H ya Mas.. masuk dari tangga kanan aja. Lebih dekat”.

Diam-diam aku menghela nafas. Bukannya aku ga
senang bertemu Aji, tapi apa yang harus kukatakan padanya? Bagaimana kalo dia
tau bahwa aku masih memendam perasaan padanya? Makanya aku bersyukur saat tahu
kami duduk berjauhan. Tapi Aji nampak kecewa.

“Kamu di tengah ya?” Wajahnya nampak sedikit
masam, lalu ia menambahkan,

“Wah.. VVIP nih.. Tumben… Sejak kapan yang
ngaku mahasiswa kok beli tiket VVIP? Hayoo.. baru dapet proyek ya?” Aji
menggodaku sambil tertawa.

Damn! Senyum itu…
aaargghhh… entah mengapa 1 lagu Strauss yang berdurasi 4 menit itu terasa
lama saat Aji berada hanya beberapa senti di depanku dan menatapku lekat-lekat.
Tiba-tiba ia nampak semenarik dulu… tiba-tiba aku merasa susah bernafas…
Aaaarghhh… Kutarik nafas dan kuberanikan diri menjawabnya smabil berbohong,
“Iya dong.. kan ga cuma Say.. ehm.. kamu aja yang bisa dapet proyek gede..
hehehe…”

Uups! Kok bisa-bisanya aku menyebutnya dengan
“Say” lagi. Kami kan sudah tidak ada apa-apa. Hmmm… tiba-tiba pusing
kepalaku. Kami memang tak pernah ada apa-apa. Yaa… paling tidak, ga resmi.
Kenapa aku jadi salah tingkah begini?!?

“Naik dulu yaa…” Saved by the door.. Tiba-tiba aku melihat pintu terbuka. Aku bergegas menaiki
tangga dan meninggalkan Aji di depan perempuan penjaga pintu yang menatapku
kebingungan. Mungkin dipikirnya aku sangat tidak sopan meninggalkan teman
begitu saja tanpa ba-bi-bu.

Aku ga peduli! Malam ini aku mau nonton
konser. Biar saja kusimpan dulu segala pikiran yang mulai berkecamuk lagi di
kepalaku tentang aku, Aji, dan hubungan kami. Itu terlalu rumit untuk malam ini.
Kuhela nafas panjang dan kupejamkan mataku sejenak… berusaha mengusir
kegalauan yang tiba-tiba muncul. Sesaat kemudian, aku pun mulai berdoa semoga
tak ada lagi kejutan hari ini. Bukannya aku tak bersyukur atas berkatNya, tapi
rasanya sudah cukup kejutan untuk hari ini.

" Well, you know people
come into your life for a reason, a season or a lifetime. When you know
which one it is, you will know what to do for that person, So when
someone is in your life for a REASON, it is usually to meet a need you
have expressed, they have come to assist you through a difficulty, to
provide you with guidance and support, to aid you physically,
emotionally or spiritually, they may seem like a godsend and they are.
They are there for the reason you need them to be. But then, without
any wrongdoing on your part or at an inconvenient time, this person
will say or do something to bring the relationship to an end, sometimes
they die, sometimes they just walk away, some times they act up and
force you to take a stand. What we must realize is that your need has
been met, your desire fulfilled, their work is done. The prayer you
sent up has been answered and now it is time to move on. I hope you
will always be good, tough and be patient facing this world "


Dikutip dari Windy’s blog… thanks ya Win.. this is really a nice quotation:)

 

membaca blog Mba Dos selalu menggelitik hati dan pikiranku.
And here I am trying to digest that title she wrote…

Aku pernah berpikir dan merasa demikian. Apalagi ketika kerinduan yang kurasakan dibalas dengan rasa rindu oleh pihak yang kurindukan. Begitu romantis rasanya saling merindukan.. merasakan jatuh cinta… dan akhirnya berujung pada suatu pertemuan setelah kerinduan itu menggebu. Pokoknya persis kata grup musik WARNA:  "rindu ini terasa indahnya saat kau ada di sisi bersamaku, berbagi rasa"

Iya.. emang indah kalo kemudian orangnya ada, tapi kalo engga?!? Kalo dirasain sendiri?!?  yaaa… kenikmatan itu tergantikan dengan kecemasan mendalam dan akhirnya sakit hati. Hal ini dah berkali-kali kurasakan, especially with my most recent ex-almost-boyfriend. Hal ini bahkan jadi perdebatan paling hangat yang berakhir dengan pertengkaran dan air mata (tentu aja di pihakku). Abis aku ga tahan ‘dicuekin’. Seribu satu alasan kesibukan selalu jadi senjata andalannya.. seolah membenarkan dan memberi hak padanya untuk datang dan pergi sesuka hatinya. Aku merasa begitu ga berharga. "Emang aku halte bis apa?" begitu kataku setiap kali. Dan kerinduan yang menggebu itu beralih jadi kecemasan dan kemarahan tak terkendali yang merongrong sanubari. Agresivitasku meningkat. Dan biasanya nafsu makanku jadinya juga meningkat. Lama-lama kan berat badanku meningkat dan mengarah pada kecemasan dan kemarahan lain. Terus aja gitu. Meminjam istilah Bang HD, aku terperangkap dalam vicious circle-ku. Jangan-jangan juga "existentialism frustration"…

Rasa sakit hati dan kenestapaan karena terperangkap dalam lingkaran setan itulah salah satu alasan mengapa aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya. meski kini kerinduan itu sesekali masih muncul, tapi sakitnya tak lagi ada. Hanya sekedar rasa kangen yang kadang kita rasakan pada masakan kesukaan waktu kecil, tempat nongkrong favorit, atau temen sekolah waktu SD. Kangen pada kebiasaan dan kenangan yang indah. Apa ini maksud Mba Dos dengan rindu itu nikmat?

Lalu kenapa dua hari ini aku merasa rindu yang merongrong lagi ya? Well… pelakunya memang lain. Tapi kok aku merasakan rindu dan kesal yang sama seperti yang dulu aku rasakan ya? Baru 2x sih dia menghilang tanpa kabar. itupun disertai dengan alasan yang yaa… lumayan masuk akal sih…. tapi kok aku kesal ya?
Barusan HPku juga sudah berdering dan si pelaku itu sudah menjelaskan kenapa dia tak menghubungiku (ditambah dengan cerita kesialannya yang kusebut ‘karma’ karena tak menghubungiku.. hihihihi..), tapi lagi-lagi mengapa aku sempat merasa kesal ya?

Ketika kuceritakan ini pada temanku, ia hanya tersenyum simpul penuh makna. Damn! aku langsung sadar apa maksudnya. Jangan-jangan… aaaarghhh.. aku tak mau memikirkannya. Aku takut nanti aku freak out dan malah membuyarkan semua usaha dan masa-masa menyenangkan ini.

OK! tetep aja ini ga menyelesaikan masalah utama, yaitu rindu yang kurasakan kok ga nikmat ya? apa karena pengalaman buruk ‘ditelantarkan dan dicuekin’ membuatku sangat insecure kalo aku tak selalu menerima sapaan? Padahal si pelaku saat ini nampaknya bukan orang yang senang berkomunikasi, dalam hal frekuensi. Kualitas sih lumayan dan tentunya dengan durasi yang lama, tapi kok ini ga cukup ya buatku? Saat-saat kosong ga ada kabar, ga ada sms atau telpon adalah saat-saat kegamangan itu muncul. Aku merasa ragu apa bener dia beneran "segitunya" ama aku??? Dan rentetan kejadian tak mengenakkan dengan si masa lalu itu mulai menghantuiku. Rindu ini jadi rongrongan yang ga menyenangkan lagi.

Si Mas sudah menghardikku dan bilang "Kamu tuh ya ga pernah puas deh… " dan ditutup dengan kalimat andalannya, "Dasar perempuan kamu, Dik". Dan aku hanya bisa diam membisu sambil mangkel rasanya. Mentang-mentang sama2 laki-laki trus dibelain deh. Tapi apa si Mas bener ya?!?

Perhaps I am being ridiculous. So what? Rindu masih terasa ga nikmat kok.
Meresahkan… menggelisahkan… mencemaskan…
Hayoo… ada yang mau menanggapi kenapa rindu bisa jadi nikmat?!?!
Coba dong dibagi resepnya…

Jenuh…

Huh… betapa membosankan beberapa minggu terakhir ini. aku ga bisa berkonsentrasi. meski ada hal-hal yang membuatku bahagia, tapi kok di "tempat kerja" aku ga semangat ya? belum lagi insomnia yang kambuh… huaaa… BT!!!

gairahku mulai menurun… demotivasi mungkin… tapi kan aku memilih untuk melakukan ini?!? kok bisa2nya sekarang aku me… oh well… aku ga mau mengatakan kata itu. hmmm… mungkin kata yang paling tepat adalah mempertanyakan motivasi dan semangatku sendiri.

1 tahun memang bukan waktu yang lama. tapi 1 tahun mendatang akan semakin berat dan penuh tantangan. ragu mulai menyergap… sanggupkah aku menjalaninya? sanggupkah aku membangun kembali "aku" yang dulu…yang begitu … hmm… apa ya?!? well… determined and persistence… could I?!?!

GOD HELP!!! I really need to focus.. maybe this whole love thing should be postponed… so that my head won’t be preoccupied with anything else but "work"…
but then again "this thing" make me happy… so damn happy… should I let it go?
knowing that I might not have this kind of opportunity ever again….

Aaaaaaaaaaarrrrrrrrgggggggghhhhhhhhhh… JENUH!!!

"someone once told me that not having something you really want could break your heart. but, not knowing what you really want will make you suffer even more.."

Aku ga pernah menyangka akan begini sulit membuat suatu keputusan. Padahal aku orang yang rasional… sangat rasional malah. tapi kenapa kali ini aku tak kunjung bisa memilih ya?!?

hmm… mungkin  ’si Gendut’ bener… kalo soal hati, aku pun yang mempelajari perilaku manusia akan mati kutu.  kebingungan! masalahnya aku sangat ingin segera membuat pilihan biar lebih nyaman dan pasti, tapi… huh! aku terus-terusan menghindarinya. tiap kali pikiran itu memenuhi benakku akan kuhalau segera dengan berbagai macam aktivitas yang tidak bermakna… dan MAKAN!!! aaaaarrrggghhhh… jangan-jangan aku memang sudah kena gangguan OCD:(

Ini yang makin ingin membuatku membuat keputusan. secara ga sadar aku sudah memindahkan kecemasanku.. kebingunganku.. dan sangat mungkin luka hatiku ke perilaku kompulsi makan. awalnya aku berdalih ini hanya sementara.. hanya coping. tapi ketika angka timbanganku naik drastis dalam seminggu ini… huaaaa… aku mulai panik. aku harus mencari cara yang lebih tepat untuk mengatasi apa pun yang sedang kuhadapi.

well, aku menolak menyebutnya masalah. karena tak ada kejadian yang spesifik yang mengganggu.. hmm.. atau ini bagian dari rasionalisasiku saja? huaaaa… pusing rasanya! tapi kenapa di tengah kegalauan yang maha dahsyat ini ’si Bapak’ malah tak kunjung bisa ditemui dan malah terkesan menghindariku. Huh! mungkin dia sedang pusing juga sih.. tapi lalu ke mana aku harus mencari pencerahan?!?

STOP!!!! aku harus bisa mengatasi ini sendiri. aku harus lebih disiplin pada diriku dan tidak bermanja-manja pada dukungan orang lain. OK.. let’s see.. apa sih yang kutakutkan dari mengambil keputusan itu padahal rasanya hatiku mulai luluh??!!!!???  yang pasti,  aku takut salah langkah. gimana kalo semua ga berjalan seperti harapanku??? gimana kalo tiba-tiba ada jalan untuk memperbaiki? gimana kalo aku hanya melibatkan diriku pada sesuatu yang akan menghancurkan hatiku lagi??

Gosh.. I think I’m afraid to fall in love again..
coz’ I think I can’t survive anymore heart broken.
And perhaps I do know what I want!
Perhaps I want the love that will last forever..
the one that will never breaks my heart..
the one that comforting, yet still have some sparks along the way..
I want that fairy tale!!! Is that even possible???
WHATEVER!!! at least I might know what I want.
Coz’ I don’t want to suffer even more …

"let your imagination take you up and away..
enjoy every moment you have..
while you still can.."

« Newer Posts - Older Posts »